As’ad Azuni
Ketika melepaskan diri dari yahudi dengan memberikan Palestina kepada mereka sebagai tanah air kebangsaan, Inggris tidak berniat membalas manis kepada yahudi atas jasa baik mereka, atau balas dendam kepada Arab karena dianggap melakukan kejahatan mereka. Inggris melakukannya karena ia ingin mendirikan negara Kristen murni di Inggris setelah dibersihkan dari yahudi. Itu sebenarnya yang diinginkan oleh pemimpin Jerman Adlof Hitler, pimpinan barat pertama yang ingin memberikan Palestina sebagai tanah air kebangsaan kepada yahudi. Namun sejarah akhirnya mencatat Sir Artur Balfour, Menlu Inggris kala itu sebagai orang yang memberikan Palestina kepada yahudi. Kenapa mereka melakukan itu? Karena Eropa saat itu menjadi rusak karena tindakan orang-orang yahudi.
Ketika elit gerakan zionisme internasional menyetujui kesepakatan internasional mendirikan tanah air kebangsaan bagi mereka di Palestina, agama bukanlah agenda mereka. Sebab penggagas zionisme Theodore Hartezl adalah seorang sekuler. Namun karena gerakan zionisme akan mendapatkan perlawanan dari yahudi, maka mereka sepakat untuk memanfaatkan agama. Mereka memanfaatkan Al-Quds (Jerusalem) dalam kampanye manipulasi mereka terhadap yahudi dan muncul jargon “nyawa kami tergantung di Jerusalam”, “bagian tubuh kananku akan lumpuh jika melupakanmu Jerusalem”. Demikianlah, agama yahudi masuk dalam kancah peperangan dan elit zionisme mulai – setelah kesepakatan ini – dengan elit barat untuk mempersempit gerak yahudi agar mereka masuk dalam gerakan zionisme dan eksodus ke Palestina dengan alasan sebagai “tanah air tanpa bangsa untuk bangsa tanpa tanah air” dan itu adalah tanah lemak dan madu.
Dalam konferensi Hertezl pertama tahun 1897, Hertezl berjanji mendirikan negara bagi yahudi di Palestina 50 tahun ke depan. Namun janji ini tidak dipublikasikan karena khawatir ditertawakan dan ditentang karena saat itu mereka beranggapan mustahil bangsa Arab akan memberikan bagi orang asing untuk mengambil tanah paling suci milik mereka.
Elit zionisme terus mengemas agenda mereka dengan kemasan agama karena mereka sadar bahwa yahudi dunia akan merespon seruan mereka. Dalam surat pengakuan yang mereka kirim kepada presiden Amerika Harry Turman tahun 1948, mereka bersisi penegasan, “Negara Israel bercorak yahudi.” Namun Turman memahami permainan ini dan menghapus teks tersebut dan mengganti dengan tulisan tangan “negara Israel”. Artinya, Turman menolak “yahudisme negara Israel” sementara presiden Amerika saat ini Barack Husain Obama yang pernah berjanji akan menghentikan kekerasan Israel terhadap “kita”, justru menyetujui Israel berubah menjadi negara yahudi murni.
Di sinilah terungkap rahasia kenapa perdamaian tidak terwujud meski Arab (baik yang murni atau blasteran) termasuk warga Palestina sendiri, menandatangani kesepakatan secara resmi dengan Israel dan menerimanya sebagai negara sahabat dan menyetujui tindakan permusuhan sahabat.
Sejak awal Israel tidak ingin mewujudkan perdamaian melalui kesepakatan-kesepakatan itu. Sebab Israel merasa diri kuat dan selama bangsa Arab lemah terpecah, maka kesepakatan dan perjanjian dijadikan sebagai ajang untuk mengalah dari hak-hak mereka yang dirampas musuh mereka yang tamak. Tujuan hakiki Israel adalah memarginalkan Mesir terlebih dulu dari barisan Arab dan melumpuhkan PLO dengan diusir dari Libanon ke Tunis, kemudian dikubur di Oslo. Begitulah Israel melancarkan rencananya secara sistematis hingga akhirnya memaksa kerajaan-kerajaan Arab seperti sekarang ini yang sebagian elit-elitnya menegaskan bahwa tuntutan mereka bukan mengakui Israel sebagai negara biasa namun negara murni dan dimurnikan untuk yahudi.
Apa lantas Israel sebagai negara yahudi? Semua yang berbau, lebel, simbol Arab dan Islam di Palestina harus dibersihkan dari nama, peninggalan, tempat suci, bahasa, hingga tanda-tanda bumi dan penduduknya. Karenanya, kita mereka berusaha melakukan yahudisasi Al-Quds dan berusaha merubuhkan masjid Al-Aqsha setelah membangun sinagog Harob di dekatnya dimana lampu sinagog ini begitu terang mengalahkan kilauan kubah Shokroh. Sehingga turis asing akan bercengang dengan sinagog ini dan tidak peduli dengan masjid Al-Aqsha.
Dan Israel juga meyahudikan Palestina jajahan tahun 1948, mengubah nama-nama jalan menjadi bahasa ibrani untuk memulai langkah final mendeklarasikan Israel sebagai negara yahudi setelah masjid Al-Aqsha rubuh tentunya.
Sebagian anggota PBB ikut bingung menebak teka-teki kenapa perdamaian tidak terwujud di Timur Tengah, padahal Arab sudah menyetujui Israel sebagai tuan di kawasan itu. Namun teka-teki itu terjawab sudah ketika PM Israel Benjamen Netanyahu di jantung ibukota Amerika dan pusat politiknya Kongres menegaskan bahwa perdamaian akan dijamin terwujud dengan pengakuan Arab dan Palestina mengakui Israel sebagai negara yahudi.
Jika pengakuan itu diwujudkan maka – menurut penulis – dalam waktu dekat akan ada pengusiran 1,25 juta warga Palestina di wilayah jajahan tahun 1948 (wilayah Israel) dan mayoritas warga Palestina di Tepi Barat setelah semua cara mempertahankan hidup secara layak tidak bisa diwujudkan karena tembok yahudi, penggusuran rumah dan penyitaan tanah oleh Israel dan wilayah subur Palestina diambil Israel serta sumber airnya. Kini para elit Israel menyiapkan kesepakatan pertukaran wilayah dengan Otoritas Palestina, dimana Israel akan menguasai wilayah subur yang didirikan di sana permukiman yahudi dan wilayah padang pasir tandus Naqab dikuasai oleh otoritas Palestina dimana binatang pun tidak bisa hidup di sana. (bsyr)
Arab to day Jordania



Tidak ada komentar:
Posting Komentar