Kapal "Dignity" dari Prancis dan kapal "Freedom" dari Irlandia akan bergabung dengan 350 peserta lainnya, dan berlayar ke Gaza dalam beberapa hari mendatang, tergantung lamanya penundaan.
Sejumlah kapal yang bergabung dengan armada kemanusiaan tak luput dari target sabotase dan birokrasi yang rumit, seperti inspeksi dan kertas kerja yang menurut panitia bermotif politik dan diatur oleh Israel.
Kemarin (29/6), Israel kembali menyabotase kapal kemanusiaan yang akan berlayar ke Gaza. Sejumlah orang tak dikenal merusak mesin penggerak pada kapal Irlandia Saoirse di Turki,. Kapal ini dijadwalkan akan membawa sekitar 20 aktivis pro-Palestina.
Jumat (24/6) lalu, kapal AS mengalami penundaan, menyusul keluhan yang diajukan Pusat Hukum Israel kepada Otoritas Pelabuhan Yunani. Kelompok Israel mengklaim kapal tersebut tidak layak-laut (unseaworthy). Alhasil, pihak pelabuhan melakukan pemeriksaan panjang, meski faktanya, kapal tersebut telah diperiksa sebelumnya.
Kapal “Juliano” juga menjadi sasaran sabotase di Pelabuhan Yunani, Senin (26/6). Para awak kapal gabungan Yunani/Norwegia/Swedia tersebut menemukan, orang tak dikenal telah merusak poros baling-baling kapal dengan cara menyelam di bawah kapal dan memotong poros menggunakan alat pemotong baja. Tidak diketahui pihak mana yang melakukan aksi itu. Namun dapat dipastikan, Israel terlibat dalam sabotase tersebut.
Rezim Zionis juga diyakini sebagai dalang operasi pembunuhan terhadap salah satu nakhoda kapal Freedom Flotilla 2, dengan meledakkan mesin kapal. Namun upaya itu gagal dan nakhoda tersebut selamat dari kematian. (mna/imemc/pic)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar